Berita Terkini
KEPALA BBKSDA RIAU BERSAMA WAKIL BUPATI BENGKALIS MENINJAU TAMAN SATWA BENGKALIS, KABUPATEN BENGKALIS

KEPALA BBKSDA RIAU BERSAMA WAKIL BUPATI BENGKALIS MENINJAU TAMAN SATWA BENGKALIS, KABUPATEN BENGKALIS

Administrator 26 April 2021 6.574 kali dilihat

PEKANBARU- Pada Minggu, 25 April 2021, Kepala Balai Besar KSDA Riau melakukan kunjungan kerja bersama Wakil Bupati Bengkalis, bapak Bagus Santoso ke Lembaga Konservasi Taman Satwa Bengkalis di pelabuhan penyeberangan internasional Selat Baru. Lembaga konservasi ini telah mendapat ijin LK bentuk Taman Satwa kepada Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Bengkalis Cq. Kebun Binatang Bengkalis SK. MENHUT No.SK.698/Menhut-II/2009, yang memiliki masa berlaku ijin selama 30 tahun (ijin berakhir tahun 2029).

 

Saat ini lembaga konservasi yang satu – satunya berada di Kabupaten Bengkalis ini tidak terkelola secara optimal. Koleksi satwa yang adapun hanya Buaya Muara dan Labi - labi. Sampai dengan saat ini, pengelolaan Taman Satwa Bengkalis ini masih dilakukan oleh pemerintah daerah.


 


Berdasarkan hasil kunjungan kerja Kepala Balai Besar KSDA Riau dan Wakil Bupati Bengkalis, maka usulan pengelolaan akan diserahkan kepada pihak ketiga berbadan usaha (swasta, BUMD, BUMDesa,). Hal yang diharapkan, adanya pembangunan/ perbaikan/renovasi sarpras dan fasilitas yang ada, dan penambahan koleksi satwa yang sesuai dengan keadaan ekosistem/habitat setempat. Target yang ingin dicapai adalah integrasi/keterpaduan pelabuhan, wisata alam dan wisata budaya yang berdampak pada perekonomian masyarakat dan pendapatan negara.

 

Kunjungan dilanjutkan ke lokasi abrasi Teluk Papal, Kec. Bantan, Kab. Bengkalis. Lokasi tersebut berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan garis pantai terluar Indonesia. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat setempat, areal abrasi dahulunya merupakan kampung dan kebun. Jarak abrasi sudah mencapai kurang lebih 1 Km dari garis pantai saat ini, dimana abrasi tahunan mencai 3-10 meter. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi adalah dengan membangun break water/pemecah gelombang, tetapi pembangunan dengan panjang masih terbatas, sehingga belum dapat melindungi tepi pantai secara maksimal. Pembangunan break water ternyata juga berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan vegetasi bakau yang berada di belakangnya. Usulan yang dilakukan adalah pembangunan break water dan penanaman vegetasi bakau.

 

Semoga daya dan upaya yang dilakukan secara bersama segera dapat mengatasi permasalahan yang ada ya kawan....

 

Salam konservasi…

#bersamakitabisa

#karenakonservasitakmungkinsendiri

Balai Besar KSDA Riau


Kembali
WhatsApp Respon cepat Telepon Call center Pengaduan Laporkan kejadian